Saat anak belum genap satu tahun, saya dan suami mengajukan pinjaman untuk membuka usaha. Entahlah, padahal prinsip saya selama ini jangan pakai uang hasil pinjaman untuk memulai usaha. Di sini, kami juga dibantu seseorang yang ternyata kurang bertanggung jawab.
Tiga bulan pertama pemasukan belum pasti. Keuangan terseok karena pengeluaran jalan terus sementara pemasukan datang naik turun. Qodarullah, pada suatu waktu seseorang yang membantu kami mengalami kecelakaan yang menyebabkannya tidak bisa bantu-bantu.
Setelah berdialog panjang akhirnya kami mantap menutup usaha. Suami bekerja di bidang jasa sementara saya menjadi blogger sekaligus content writer. Alhamdulillah, pelan tapi pasti, lewat ikhtiar tersebut Allah menitipkan rejeki termasuk untuk melunasi kewajiban.
Pekerjaan saya di bidang penulisan memberikan banyak perubahan positif. Wawasan semakin bertambah, kenalan juga semakin banyak.
Saya terbiasa dengan ritme pekerjaan sebagai content writer yang ketat target. Seringkali, saya mendapat wawasan baru yang berasal dari topik artikel yang sedang saya tulis. Pokoknya puji syukur Alhamdulillah.
Berpegang pada pengalaman masa lalu, kini saya memiliki standar tertentu saat memilih pekerjaan. Terlebih lagi di tengah kondisi ekonomi seperti sekarang yang mengharuskan kita memiliki pekerjaan sampingan, namun di satu sisi harus detail pada pengeluaran. Saat memulai usaha, beberapa aturan yang saya terapkan yaitu:
Jangan Berpacu pada Besar Kecilnya Modal Uang
Mulai dari apa yang kamu punya. Memulai usaha itu tidak harus dengan modal besar. Kesalahan saya dulu adalah menomorsatukan modal uang. Ada banyak sekali jenis pekerjaan minim risiko yang bisa kamu pilih tanpa perlu mengeluarkan modal jutaan, apalagi sampai meminjam dari pihak ke-3.
Utang untuk usaha tidak disarankan karena pemasukan belum pasti tapi kewajiban membayar cicilan sudah di depan mata.
Di sini saya memilih membuat konten. Alasannya, karena latar belakang saya sebagai penulis konten dan blogger. Menurut saya keduanya mirip, perbedaannya hanya terletak pada hasil akhirnya saja. Logika penulisan yang sudah terbentuk memudahkan proses mencari ide, menyusun hingga eksekusi konten.
Memanfaatkan Waktu secara Maksimal
Pembuatan konten bisa saya lakukan di sela kesibukan mengurus keluarga dan beberapa pekerjaan freelance yang lain. Saat memulai usaha sampingan, jangan pernah menunggu waktu luang karena tidak akan bisa.
Anggap saja kita menukar modal uang dengan waktu yang kita miliki. Jika hari ini sarana dan prasarana yang kita miliki belum sempurna, tak masalah. Sebelum menulis menggunakan laptop dengan nyaman seperti saat ini, saya selalu menulis memakai hape lho. Bahkan saya pernah mengubah html blog menggunakan hape. Ini sangat tidak disarankan karena rawan membuat kesalahan tapi.. Waktu luang saya hanya malam ketika anak tidur, sementara tidak mungkin banget saya keluar malam ke warnet. Jadi ya dijalani saja.
Baru setelahnya saya menggunakan keyboard bluetooth sambil mengumpulkan honor yang saya peroleh hingga akhirnya memiliki membeli laptop. Intinya maksimalkan apa yang kita miliki sambil berdoa agar segera dipantaskan.
Jeli Memilih Peluang
Banyak orang mengatakan saat ini daya beli masyarakat rendah. Saya tidak menyangkal hal tersebut. Beberapa kali saya menemukan pasar di dekat rumah tidak seramai biasanya.
Namun saya tidak 100% percaya karena beberapa tempat selalu ramai, penuh antrian. Ada juga yang sampai menolak konsumen karena dagangan mereka sudah habis.
Artinya butuh kejelian dalam memilah apa yang dibutuhkan konsumen. Serta menghadirkan strategi untuk menarik mereka.
Saya memilih pembuatan konten karena skill ini masih memiliki peluang yang besar. Tidak hanya digunakan untuk media sosial pribadi, keterampilan menciptakan konten juga bisa kami tawarkan kepada pihak lain. Apalagi dengan semakin tingginya pengguna media digital, kemampuan satu ini tidak rugi untuk dimiliki. Misalkan seperti guru bahasa Inggris yang membuka kursus bahasa asing.
Namun karena bidang pekerjaan ini masih baru, tidak heran jika masih banyak yang membingungkan. Banyak yang belum mengetahui seluk beluknya, misalnya penentuan rate card, cara membuat invoice, cara mencari dan bekerja sama dengan klien hingga bagaimana mengatur keuangan saat mendapat kontrak kerjasama.
Nah poin selanjutnya, saya akan menulis tentang hal yang patut diperhatikan ketika memutuskan untuk menjadi content creators yang memiliki daya saing. Tapi karena takut terlalu panjang, jadi postingan ini bersambung ya!