Setiap bulan Agustus mendadak aku menjadi salah satu manusia paling sibuk sedunia. Pasalnya aku yang bekerja dari pagi sampai sore akan langsung ke lapangan untuk nge-dril bola voli. Latihan ini dilakukan sebagai persiapan lomba voli tingkat RT di kampung. Maklum ibu-ibu ini sebenarnya nggak bisa main voli tapi ditunjuk sama bu RT buat tampil di lapangan.
Untungnya ini tidak diadakan setiap sore. Jadi aku bisa menemani kelompok tari karena mereka akan menjadi salah satu pengisi acara pada malam tirakatan nanti. Kali ini aku tidak sendiri tapi ditemani oleh tetanggaku sekaligus teman masa kecilku yang saat ini berprofesi sebagai guru SD. Adem ayem rasanya karena tugas memperagakan gerakan menari sudah dipegang oleh ahlinya.
Sementara itu, di tempat kerja aku banyak menatap gadget untuk menyelesaikan draft konten media sosial atau untuk memeriksa orderan yang masuk di marketplace. Sedangkan di rumah, aku akan mengerjakan artikel pesanan karena profesi lainku adalah freelance content writer.
Untuk pentas menari, kami memerlukan properti agar tampak semarak. Tapi untuk menghemat anggaran, aku dan ibu-ibu lainnya memutuskan untuk berkreasi sendiri. Kami akan membuat topi kertas dengan hiasan bebek di bagian depan dan rumbai-rumbai rafia sebagai pengisi tangan dan kaki agar tidak kosong.
Bikin properti sambil tetap menjalankan tanggung jawab lain memang melelahkan tapi aku sangat menikmatinya. Lagipula hanya setahun sekali kok. Meski konsekuensinya aku harus mengulur jam tidur agar semua segera rampung karena waktu pementasan tinggal sebentar lagi. Kondisi salah satu mataku yang super sensitif karena pernah trauma saat bayi pun terpaksa aku abaikan.
Membuatkan properti menari adalah bentuk perhatianku pada anak karena sehari-hari aku tidak bisa memberikan padanya banyak waktu luang bersama. Rasanya senang sekali apalagi kalau mendengar dia bercerita dengan bangga peran ibunya di hadapan anak-anak yang lain.

Kumpulan kegiatan yang menyita fokus mata akhir-akhir ini ternyata membuat indera penglihatanku protes juga. Rasa sepet, pegal dan terasa tidak nyaman begitu mendominasi. Aku sudah mengucek mata berulang kali hanya untuk menghilangkan rasa tidak nyaman itu tapi nihil hasilnya. Mataku justru memerah.
Aku jadi ingat kejadian yang sempat aku alami beberapa waktu sebelumnya akibat teledor terhadap kesehatan mata. Gejala awal yang aku sepelekan mengundang rasa sakit yang lebih parah dan lebih lama. Kondisi ini membuatku menyerah dan pergi ke dokter.
Tidak mau mengulang kejadian yang sama aku segera mengambil #InstoDryEyes yang aku beli di Indomaret dekat rumah. Ada sensasi sejuk dan rasa pegal berangsur mereda setelah aku meneteskannya di kedua bola mataku.
Untukku pribadi gejala mata kering seperti sepet, pegal dan lelah sangat memengaruhi pekerjaan karena hampir seluruh prosesnya harus aku lakukan menggunakan gadget. Kadang saat rasa pegal mendera karena jarang berkedip, aku memijat area sekitar mata dan melakukan gerakan memutar bola mata selama beberapa kali.
Aku menaruh Insto Dry Eyes di dalam tas agar bisa segera #BebasMataKering mengingat penyebabnya sangat dekat dengan keseharian ibu-ibuku sepertiku.
Mulai dari terpapar asap dapur yang mengepul saat mengolah makanan, antri seharian di ruangan ber-AC karena harus ganti kartu ATM yang ketelan gara-gara anak salah masukin PIN, kelamaan melihat gadget untuk membaca pengumuman di grup paguyuban namun berakhir dengan tarik ulur perencanaan agenda ‘nyoto’ selanjutnya atau memicingkan mata untuk memasang kancing baju anak yang lepas karena Minggu siang sebelumnya sibuk dengan ibu-ibu anggota senam. Ini semua jelas bisa menimbulkan #GejalaMataKering yang mengganggu.
Setelah #GejalaMataKering pergi, siap banget otewe lagi untuk menyelesaikan persiapan 17an di kampung sambil menyambut rejeki yang masuk dalam bentuk padatnya pekerjaan dan pesanan artikel. Selamat hari merdeka semua!